Jakarta, infojurnalis.com – Bencana 10–11 April 2026 didominasi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Laporan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hujan lebat disertai angin kencang menjadi pemicu utama kerusakan dan korban jiwa dalam periode pemantauan tersebut.
Bencana cuaca ekstrem melanda sejumlah daerah dalam rentang waktu Jumat, 10 April 2026 pukul 07.00 WIB hingga Sabtu, 11 April 2026 pukul 07.00 WIB. Intensitas hujan tinggi yang berlangsung selama dua hingga empat jam menyebabkan dampak signifikan di beberapa provinsi.
Di Kabupaten Wonosobo, hujan deras dan angin kencang pada 9–10 April 2026 merusak puluhan rumah. Sebanyak 21 unit rumah rusak ringan dan 10 unit rumah terdampak. Selain itu, lima kendaraan roda empat, satu jaringan listrik, serta empat akses jalan ikut terdampak. BPBD setempat langsung melakukan kaji cepat dan pembersihan material pohon tumbang.

Masih di Kabupaten Banyumas, banjir terjadi akibat luapan dua sungai dan tanggul jebol. Banjir merendam permukiman warga di beberapa desa. Satu rumah mengalami kerusakan sedang, sementara 120 rumah dan satu fasilitas pendidikan terdampak. Banjir dilaporkan telah surut pada 10 April 2026 setelah dilakukan pembersihan bersama warga.
Di Kabupaten Bone, peristiwa tragis terjadi saat hujan lebat dan angin kencang menyebabkan pohon tumbang menimpa tenda pengantin. Akibat kejadian ini, delapan orang mengalami luka-luka dan satu orang meninggal dunia. Tim gabungan segera melakukan penanganan korban dan pembersihan lokasi.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Bogor. Hujan deras dan angin kencang menyebabkan pohon tumbang di dua titik hingga menutup akses jalan. Sebanyak 18 rumah rusak ringan dan satu fasilitas pendidikan mengalami kerusakan sedang. Akses jalan kini telah kembali normal setelah dilakukan pembersihan.
Di Kabupaten Bandung, dampak cuaca ekstrem lebih luas. BPBD mencatat tujuh rumah rusak berat, 20 rumah rusak sedang, 57 rumah rusak ringan, dan 51 rumah lainnya terdampak. Sejumlah fasilitas umum seperti tempat ibadah, sekolah, jembatan, hingga akses jalan juga mengalami kerusakan. Tim gabungan telah melakukan perbaikan dan pembersihan di lokasi terdampak.

Sementara itu, dampak gempa bumi di Kabupaten Flores Timur masih terus didata. Hingga 11 April 2026, sebanyak 285 kepala keluarga atau 1.313 jiwa terdampak. Sebanyak 238 rumah dilaporkan rusak, disertai kerusakan fasilitas umum seperti tempat ibadah dan sekolah. Warga sebagian besar mengungsi secara mandiri, sementara BPBD telah mendirikan tenda pengungsian dan pos layanan darurat.
Prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat masih akan terjadi pada 11–13 April 2026 di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi disertai petir dan angin kencang.
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Warga diminta memantau informasi cuaca resmi, menghindari area rawan seperti bantaran sungai dan lereng curam, serta segera melakukan evakuasi jika terjadi hujan berkepanjangan.
Pemerintah daerah juga diminta memastikan kesiapan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan logistik darurat agar penanganan bencana dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (Red/Rel).
Sumber: BPNB RI.


