Tanah Ambles Kaliori Rembang: 5 Bangunan Rusak, Kerugian Capai Rp192 Juta

Rembang — Tanah Ambles Kaliori Rembang terjadi di Dusun Gobok, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Peristiwa ini memicu kerusakan pada empat rumah warga dan satu kandang ternak akibat pergerakan tanah yang dipicu curah hujan tinggi.

Tanah Ambles Kaliori Rembang langsung ditangani oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rembang. Petugas turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dan pemantauan kondisi tanah yang masih bergerak.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menjelaskan bahwa hujan deras dalam beberapa hari terakhir membuat kontur tanah menjadi gembur dan tidak stabil. Sekitar 62 meter tanah dilaporkan bergerak turun.

“Karena beberapa hari yang lalu intensitas hujan tinggi, membuat kontur tanah menjadi gembur. Sekitar 62 meter tanah bergerak turun ke bawah,” ujar Luthfi saat ditemui di lokasi, Rabu (25/02/2026).

Berdasarkan hasil pendataan sementara, total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp192 juta. Kerusakan terparah dialami rumah milik Darto yang amblas kurang lebih dua meter dengan estimasi kerugian sekitar Rp90 juta.

Kandang ternak milik Sukarji mengalami kerusakan dengan taksiran kerugian Rp12 juta. Rumah Lukman Arif mengalami retak pada pondasi dan dinding dengan estimasi Rp10 juta.

Sementara itu, rumah milik Umbarno mengalami kerusakan pada kamar mandi dan kandang dengan estimasi Rp50 juta. Rumah Suwarni juga terdampak retak dinding di lantai dua dengan perkiraan kerugian Rp30 juta.

BPBD Kabupaten Rembang telah mendata seluruh warga terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta organisasi perangkat daerah terkait untuk langkah penanganan lanjutan. Meski tanah masih bergerak, sebagian warga memilih tetap bertahan karena kerusakan dominan terjadi di bagian belakang bangunan.

Sebagai langkah tanggap darurat, lima keluarga terdampak menerima bantuan sembako dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Salah satu perwakilan keluarga terdampak, Chorik, mengungkapkan bahwa pergerakan tanah mulai terjadi sejak 18 Januari 2026. Kondisi tersebut berlangsung bertahap dan semakin parah setelah hujan deras pada 23 Februari 2026.

“Amblesnya setiap hari, setiap lima menit ada gerakan-gerakan. Rumah ayah saya yang bagian belakang sudah turun. Kamar mandi sekarang posisinya di bawah, padahal sebelumnya sejajar dengan rumah,” kata Chorik.

Hingga kini, BPBD Kabupaten Rembang terus melakukan pemantauan berkala di lokasi kejadian. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras yang berpotensi memperparah pergerakan tanah.

Pemerintah daerah memastikan penanganan dilakukan secara bertahap dan berbasis data lapangan untuk meminimalkan risiko lanjutan bagi masyarakat sekitar. (Red/Rel).

Sumber: Dinas Kominfo Kabupaten Rembang.

 

 

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news