Segajih Live In: Wisata Desa yang Membuat Kota Ingin Pulang

Info Jurnalis – Segajih Live In di Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menawarkan pengalaman wisata desa yang nyata. Program ini mengajak pengunjung merasakan hidup di kampung. Konsepnya sederhana. Tinggal bersama warga. Belajar budaya. Menyatu dengan alam Bukit Menoreh.

Ketua Segajih Live In, Haryanta, menyebut banyak wisatawan datang karena ingin menemukan kembali rasa memiliki kampung halaman. Sebagian pengunjung bahkan tidak punya desa asal. Segajih menjadi rumah kedua bagi mereka.
“Banyak yang merasa pulang ke rumah. Ada yang menangis saat harus kembali ke kota,” kata Haryanta di perkampungan Segajih Live In, Minggu (18/1/2026).

Paket Murah, Pengalaman Penuh Makna

Segajih Live In menawarkan paket wisata Rp150.000 per orang untuk satu hari. Harga ini sudah termasuk makan dan snack. Paket ini berisi aktivitas yang dirancang langsung oleh warga desa.

Wisatawan belajar membuat gula semut, membatik, mengenal karawitan, dan latihan tari tradisional. Kegiatan ini memberi pengalaman langsung, bukan sekadar tontonan.

Petualangan alam juga menjadi daya tarik utama. Wisatawan mengikuti outbound, icebreaking, dan susur Sungai Pelausan. Mereka melewati dam kecil dan bermain air di aliran sungai.

Segajih Live In

Makan Desa, Masak Warga

Kuliner lokal menjadi momen yang paling dinanti. Warga memasak langsung untuk tamu. Menu yang disajikan antara lain nasi tiplek, ingkung, sayur daun singkong, tempe goreng, dan sambal korek.

Bagi pelajar kota, hal sederhana justru menjadi pengalaman baru.
“Melihat ayam, kupu-kupu, atau pohon yang tidak biasa saja sudah membuat mereka senang,” ujar Haryanta.

Pulang ke Rumah Simbok

Tagline “Pulang ke Rumah Simbok” menjadi inti Segajih Live In. Wisata ini tidak menjual wahana modern. Segajih menjual rasa aman, kedekatan, dan kesederhanaan desa.

Banyak wisatawan kota merasa terhubung secara emosional. Mereka ikut aktivitas harian warga. Mereka tidur di homestay desa. Mereka berbincang tanpa jarak.

Wisata yang Menghidupi Desa

Segajih Live In memberi dampak ekonomi langsung bagi warga. Homestay, dapur warga, dan aktivitas edukasi menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Kedatangan wisatawan menjaga budaya dan membantu ekonomi lokal,” kata Haryanta.

Pada tahun 2025, kunjungan mencapai 300–400 orang per bulan. Wisatawan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Tamu mancanegara juga pernah hadir, antara lain dari Ukraina, Rusia, India, serta mahasiswa pertukaran dari Jerman.

Sebagian tamu mengikuti kegiatan edukasi budaya untuk mendukung riset dan pembelajaran akademik.

Desa Wisata Andalan Kulon Progo

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, menyebut desa wisata berbasis alam menjadi unggulan daerah. Tren wisata saat ini mengarah pada ketenangan dan pengalaman hidup desa.

Pernyataan itu disampaikan saat mendampingi Wakil Menteri Pariwisata Niluh Puspa berkunjung ke Desa Wisata Segajih. Di lokasi ini, wisatawan tidak hanya berwisata alam. Mereka tinggal bersama warga dan belajar keterampilan lokal.

Kulon Progo memiliki 29 desa wisata. Namun baru 8–10 desa yang aktif menerima kunjungan rutin. Segajih termasuk desa yang mampu menangani kunjungan massal, terutama dari sekolah dengan jumlah ratusan orang.

“Kendala utama desa wisata ada pada promosi dan penggerak,” kata Sutarman. Menurutnya, desa wisata harus punya keunikan dan pengelola yang konsisten.

Dinas Pariwisata menyiapkan open trip, penguatan paket wisata, pengembangan website, dan pelatihan pengelolaan homestay. Targetnya jelas. Pariwisata desa menjadi profesi utama warga dan memberi dampak ekonomi berkelanjutan.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news