Medan, infojurnalis.com — Petani Sumut melawan. Petani bawang di Sumatera Utara menyuarakan protes keras terhadap maraknya peredaran bawang impor ilegal yang dinilai menghancurkan harga hasil panen lokal.
Petani Sumut melawan karena harga bawang lokal terus anjlok. Kondisi ini diduga kuat dipicu masuknya bawang merah impor asal India yang beredar di pasar tradisional di Kota Medan dalam beberapa hari terakhir.
Petani Sumut melawan melalui aksi unjuk rasa. Aliansi Petani Bawang Sumatera Utara (APBSU) dijadwalkan menggelar aksi pada Selasa, 31 Maret 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai.
Aksi ini akan berlangsung di tiga titik penting, yakni DPRD Sumut, Kantor Gubernur Sumut, dan Mapolda Sumut. Massa aksi berasal dari petani bawang Tanah Karo dan sejumlah daerah lainnya di Sumatera Utara.
Petani Sumut melawan bersama mahasiswa. Sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Medan turut bergabung. Sebagian dari mereka merupakan anak petani yang merasakan langsung tekanan ekonomi di sektor pertanian.
Petani Sumut melawan berdasarkan aturan hukum. Aksi ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura serta Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Kedua aturan tersebut menegaskan kewajiban negara untuk melindungi petani lokal dan mengatur impor agar tidak merugikan produksi dalam negeri.
Petani Sumut melawan karena merasa dirugikan berkepanjangan. Koordinator aksi, Sutra Sembiring, menegaskan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama tanpa penanganan tegas.
“Kami turun langsung karena sudah terlalu lama petani dirugikan. Bawang impor ilegal ini nyata menghancurkan harga di lapangan. Kalau dibiarkan, petani bisa mati perlahan,” ujar Sutra.
Petani Sumut melawan dan mendesak tindakan tegas. Mereka meminta pemerintah dan aparat penegak hukum segera turun ke lapangan untuk menghentikan peredaran bawang impor ilegal.
“Kami mendesak pemerintah untuk segera bertindak tanpa kompromi terhadap peredaran bawang impor ilegal yang tidak hanya merugikan petani, tetapi juga berdampak pada kerugian negara,” tegasnya.
Petani Sumut melawan menjadi sinyal keras. Aksi ini menunjukkan tekanan yang semakin besar dari petani lokal yang menuntut perlindungan nyata terhadap hasil produksi mereka di tengah gempuran produk impor ilegal. (Febi).


