Info Jurnalis – Efek ganja sering dianggap menenangkan. Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Ganja memicu gangguan kesehatan serius dan risiko hukum berat di Indonesia. Data medis dan aturan hukum menempatkan ganja sebagai ancaman nyata bagi tubuh dan kehidupan sosial.
Apa Itu Ganja dan Cara Penggunaannya
Mariyuana atau ganja berasal dari daun, batang, dan tunas tanaman Cannabis sativa. Pengguna mengonsumsi ganja dengan cara diisap seperti rokok, menggunakan pipa, dicampur dalam makanan, atau diseduh sebagai teh. Tujuannya untuk mencari rasa rileks atau sensasi high.
Penggunaan jangka panjang dan dosis berlebihan memperbesar dampak buruk bagi kesehatan.
Status Medis dan Hukum di Indonesia
Ganja memang memiliki potensi medis terbatas. Pemanfaatannya harus berbasis indikasi medis dan di bawah pengawasan dokter. Pemerintah Indonesia belum mengesahkan ganja sebagai obat.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menetapkan ganja sebagai narkotika golongan I. Kepemilikan, penanaman, atau penyimpanan ganja terancam pidana penjara hingga 12 tahun dan denda maksimal Rp 8 miliar.
Efek Ganja pada Organ Tubuh
Paru-paru
Sebagian besar pengguna mengisap ganja dengan cara dibakar. Asap ganja mengandung racun, zat iritan, dan pemicu peradangan. Paparan jangka panjang meningkatkan risiko bronkitis, batuk kronis, dan PPOK. Gejala dapat mereda setelah berhenti, tetapi kerusakan tetap berisiko.
Otak
Penggunaan ganja jangka panjang menghambat fungsi otak. Remaja menghadapi risiko lebih besar karena otak masih berkembang. Dampaknya meliputi gangguan fokus, daya ingat menurun, dan konsentrasi belajar terganggu. Efek ini dapat bersifat permanen dan menurunkan prestasi akademik.
Sistem Peredaran Darah
Setelah mengisap ganja, detak jantung meningkat 20 hingga 50 denyut per menit selama sekitar tiga jam. Kondisi ini berbahaya bagi penderita penyakit jantung karena meningkatkan risiko serangan jantung. Ganja juga memicu kenaikan tekanan darah sementara, risiko perdarahan, dan mata merah akibat pelebaran pembuluh darah.
Sistem Pencernaan
Asap ganja menyebabkan rasa perih di mulut dan tenggorokan. Konsumsi oral dapat memicu mual dan muntah. Pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi, ganja memang tercatat membantu mengurangi mual. Penggunaan ini tetap memerlukan pengawasan medis ketat.
Sistem Kekebalan Tubuh
Efek ganja diduga melemahkan sistem imun. Penelitian masih terus berjalan untuk memastikan mekanismenya. Di sisi lain, ganja tercatat dapat meningkatkan nafsu makan pada penderita HIV dan AIDS dalam konteks medis tertentu.
Kehamilan dan Menyusui
Ibu hamil yang mengisap ganja berisiko mengganggu perkembangan otak janin, menghambat pertumbuhan, dan memicu cacat lahir. Campuran ganja dan tembakau meningkatkan risiko bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Ibu juga berisiko anemia, kebingungan, dan mudah lupa.
Pada ibu menyusui, zat THC terserap ke ASI dan dapat bertahan lebih dari enam minggu setelah penggunaan dihentikan. Kondisi ini menghambat pertumbuhan bayi.
Risiko Psikologis dan Ketergantungan
Efek ganja mencakup halusinasi, delusi, kecemasan, dan depresi. Penggunaan jangka panjang memicu gejala putus obat seperti insomnia, perubahan suasana hati, dan penurunan nafsu makan.
Produk turunan seperti CBD oil sering dipromosikan aman. Fakta menunjukkan keamanannya belum terbukti sepenuhnya, termasuk risiko kecanduan meski kadar THC rendah.
Kesimpulan
Efek ganja tidak berhenti pada rasa rileks sesaat. Dampaknya merusak paru-paru, otak, jantung, sistem imun, serta membahayakan janin dan bayi. Risiko hukum di Indonesia juga sangat berat. Menghindari ganja adalah pilihan rasional untuk menjaga kesehatan dan masa depan.


