Info Jurnalis – China kepung Taiwan menjadi sorotan dunia. Situasi di Selat Taiwan mendekati konflik terbuka. Militer Tiongkok meningkatkan manuver udara dan laut di sekitar pulau tersebut. Taiwan langsung menaikkan status siaga ke level tertinggi.
China kepung Taiwan terlihat dari aktivitas militer terbaru. Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan mencatat sembilan penerbangan pesawat Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA dan sembilan kapal perang PLAN di sekitar wilayah kedaulatannya pada Minggu 18 Januari 2026. Tiga pesawat melintasi garis tengah dan masuk Zona Identifikasi Pertahanan Udara atau ADIZ barat daya Taiwan.
ADIZ adalah batas udara virtual. Zona ini menjadi penanda awal sebelum pesawat asing memasuki wilayah udara sebuah negara. Pelanggaran ADIZ sering dipakai sebagai sinyal tekanan militer.
Sehari sebelumnya, situasi lebih panas. Taiwan mendeteksi 26 penerbangan pesawat PLA, delapan kapal angkatan laut, dan satu kapal resmi China di sekitar perairannya. Tujuh pesawat melintasi garis median dan masuk ADIZ Taiwan di wilayah utara, tengah, dan barat daya.
Taiwan juga menemukan satu UAV pengintai militer China masuk ADIZ barat daya. UAV itu keluar setelah Taiwan mengeluarkan peringatan radio. Aktivitas ini memperlihatkan pola pengintaian aktif.
Manuver udara dan laut tersebut dinilai sebagai pengepungan bertahap. Pola ini sering disebut sebagai aksi pra-penyerbuan. China tetap menyatakan Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Presiden Taiwan Lai Ching-te merespons tegas. Ia menegaskan akan melindungi Taiwan dari campur tangan China. Sebagai panglima tertinggi, Lai menyatakan komitmen menjaga keselamatan warga, kedaulatan negara, dan aset nasional.
Ketegangan China Taiwan terus meningkat. Dalam beberapa dekade terakhir, situasi saat ini disebut sebagai yang paling berbahaya. Pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, China menggelar latihan militer terbesar dengan skenario mengepung Taiwan.
Taiwan melaporkan lonjakan aktivitas serangan udara dan laut dalam periode tersebut. Tekanan militer berlangsung konsisten dan terukur.
Ancaman tidak hanya datang dari manuver konvensional. Draf laporan Pentagon mengungkap China telah mengerahkan lebih dari 100 rudal balistik antarbenua atau ICBM di lokasi silo terbaru. Langkah ini menunjukkan ekspansi nuklir cepat.
Laporan itu menyebut modernisasi nuklir China berlangsung lebih cepat dibanding negara pemilik senjata nuklir lain. Fokus strategisnya diarahkan ke Taiwan.
Jumlah hulu ledak nuklir China tercatat di kisaran 600 unit pada 2024. Proyeksi menunjukkan angka itu bisa menembus 1.000 hulu ledak pada 2030.
Kondisi ini menempatkan Taiwan di pusat krisis geopolitik Asia Timur. Setiap manuver kecil kini berpotensi memicu konflik besar.


