Info Jurnalis – Bukit Lawang berada di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kawasan ini masuk wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Bukit Lawang kini dikenal luas sebagai ekowisata unggulan Sumatra Utara.
Sejak awal, daya tarik Bukit Lawang bertumpu pada alam. Sungai jernih, hutan lebat, dan keanekaragaman hayati menjadi modal utama. Aktivitas wisata berkembang dari susur sungai hingga trekking hutan.
Namun satu faktor mengubah segalanya. Orangutan Sumatra (Pongo abelii).
Orangutan Jadi Magnet Wisata
Wisata melihat orangutan berkembang pesat. Wisatawan lokal dan mancanegara datang untuk melihat langsung satwa langka ini. Data lama mencatat lebih dari 200 individu orangutan pernah berada di Bukit Lawang pada periode 1973–2003. Hingga kini belum ada data populasi terbaru.
Kepala Balai Besar TNGL, Mamat Rahma, menyebut orangutan yang sering dijumpai wisatawan merupakan orangutan semi-liar hasil rehabilitasi. Namun orangutan liar juga masih bisa ditemui di hutan.
Interaksi ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah wisata membawa berkah atau justru ancaman?
Bahaya Habituasi Mengintai
Menurut Mamat, interaksi intensif berisiko mengubah perilaku orangutan. Satwa liar bisa terbiasa dengan manusia. Proses ini dikenal sebagai habituasi.
Orangutan yang terbiasa dengan manusia berpotensi kehilangan sifat alaminya. Mereka bisa mendekat, turun ke tanah, dan mencari manusia saat lapar.
Pandemi COVID-19 sempat memberi jeda. Pariwisata Bukit Lawang berhenti total pada 2020. Tidak ada satu pun wisatawan tercatat masuk kawasan.
Setelah pandemi, kunjungan melonjak. Pada 2021 tercatat 7 turis asing dan 1.099 wisatawan lokal. Tahun 2022 naik tajam menjadi 5.466 turis asing dan 7.419 wisatawan lokal. Triwulan pertama 2023 mencatat 2.370 turis asing dan 1.288 wisatawan lokal.
Penyakit Jadi Ancaman Nyata
Ahli orangutan Universitas Nasional, Dr Jito Sugardjito, menegaskan bahaya paling serius dari habituasi adalah penularan penyakit. Penyakit bisa berpindah dari manusia ke orangutan atau sebaliknya. Jika menyebar ke populasi liar, dampaknya fatal.
Jito menilai pembatasan jumlah pengunjung menjadi kunci. Kunjungan tanpa kendali mengganggu perilaku orangutan dan meningkatkan risiko kesehatan.
Ia juga menjelaskan orangutan hasil rehabilitasi kadang kembali ke feeding site. Faktor utamanya ketersediaan pakan di hutan. Ingatan terhadap lokasi pemberian makan masih melekat.
Ekowisata Butuh Aturan Ketat
Peneliti kehutanan Universitas Sumatra Utara, Onrizal, menjelaskan sejarah panjang Bukit Lawang. Kawasan ini menjadi pusat rehabilitasi orangutan sejak 1973. Pada 1991, fungsinya bergeser menjadi lokasi pengamatan.
Feeding site ditutup setelah evaluasi menunjukkan hutan mampu menyediakan pakan alami. Sejak itu, Bukit Lawang difokuskan sebagai kawasan konservasi dan ekowisata.
Onrizal menekankan pentingnya kuota harian wisatawan. Jumlah pengunjung harus dibatasi. Kelompok wisata juga perlu diatur. Edukasi wajib dilakukan sebelum masuk kawasan. Pemeriksaan barang bawaan, terutama makanan, harus ketat.
Pemandu wisata memegang peran kunci. Mereka harus memahami dampak interaksi berlebih terhadap orangutan.
Orangutan Liar Ikut Terancam
Perwakilan Forum Konservasi Orangutan Indonesia (Forina), Suci Utami, mengingatkan efek berantai. Orangutan bekas rehabilitasi yang terbiasa manusia bisa memengaruhi orangutan liar. Orangutan Sumatra dikenal lebih sosial. Risiko penularan perilaku sangat tinggi.
Orangutan yang sering turun ke tanah menghadapi ancaman parasit. Tanah menyimpan banyak agen penyakit yang berbahaya bagi kesehatan orangutan.
Penelitian Forina juga menemukan stres pada orangutan liar saat bertemu manusia. Indikasinya terlihat dari hormon stres dalam urin. Karena itu, Forina menerapkan aturan ketat. Satu individu orangutan tidak boleh diikuti selama satu bulan setelah pengambilan data.
Status Kritis Orangutan Sumatra
Orangutan Sumatra merupakan satwa dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018. IUCN menetapkan statusnya critically endangered. Spesies ini juga masuk Appendix I CITES.
Populasi orangutan Sumatra turun 80 persen dalam 75 tahun terakhir. Saat ini hanya tersisa 13 kantong populasi. Sebagian besar berada di ambang kepunahan akibat kehilangan habitat.
Pembukaan hutan, pembalakan liar, dan ekspansi perkebunan terus menekan ruang hidup mereka.
Jalan Tengah Bukit Lawang
Bukit Lawang sudah memiliki SOP ekowisata. SOP ini mengatur jarak aman, larangan memberi makan, dan pembatasan aktivitas. Namun penerapan konsisten menjadi tantangan utama.
Ekowisata tetap bisa berjalan. Konservasi harus menjadi fondasi. Tanpa kontrol ketat, magnet wisata justru berubah menjadi ancaman.
Masa depan orangutan Sumatra di Bukit Lawang ditentukan hari ini. Pilihannya jelas. Wisata berkelanjutan atau kehilangan spesies ikonik Sumatra selamanya.


