Suderajat Penjual Es Gabus Dipermalukan dan Dianiaya Oknum Aparat

Info Jurnalis – Suderajat penjual es gabus menjadi sorotan publik setelah mengalami dugaan perlakuan kejam dari oknum aparat. Kasus ini terjadi di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu 24 Januari 2025. Peristiwa tersebut memicu kecaman luas dan tuntutan pengusutan tuntas.

Suderajat, warga Desa Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, sebelumnya viral karena difitnah menjual es kue berbahan spons. Tuduhan itu disampaikan oleh pria berpakaian polisi dan berseragam TNI. Tuduhan tersebut terbukti tidak benar setelah dilakukan pengecekan terhadap es kue yang dijualnya.

Dalam video yang beredar, Suderajat penjual es gabus dipermalukan di depan umum. Ia diminta memakan dagangannya sendiri. Barang dagangannya diremas dan dihancurkan. Semua dilakukan di depan kamera.

Belakangan terungkap, perlakuan terhadap Suderajat tidak berhenti pada fitnah. Ia mengaku mengalami kekerasan fisik dari sejumlah orang di lokasi kejadian.

Pengakuan Korban Penganiayaan

Suderajat menyebut kejadian bermula saat seorang anak membeli es kue darinya. Tak lama kemudian, ayah anak tersebut datang dan melakukan tindakan kasar.

“Es kue saya dibejek-bejek. Terus dilempar ke muka saya. Saya ditendang, dikepret, ditonjok,” ujar Suderajat kepada wartawan, Selasa 27 Januari 2026.

Pria berusia sekitar 50 tahun itu mengaku wajahnya dipukul dan kakinya ditendang menggunakan sepatu lars. Ia juga mengaku tubuhnya disabet selang dan diancam akan digantung.

Akibat kejadian tersebut, Suderajat mengalami luka di wajah, bahu, dan kaki kanan. Ia menyebut ada beberapa orang lain di lokasi, termasuk pengurus lingkungan, pejabat kelurahan, dan oknum aparat.

“Lima kali dipukul. Ini sakit,” katanya sambil menunjukkan bekas luka.

Meski mengalami perlakuan tersebut, Suderajat memilih pasrah. Ia berharap keadilan datang dengan caranya sendiri.

“Biar Allah Maha Kuasa yang balas,” ujarnya.

30 Tahun Jualan Es Kue Keliling

Suderajat penjual es gabus telah berjualan es kue keliling selama sekitar 30 tahun. Ia biasa berangkat sebelum subuh dan pulang menjelang magrib. Setiap hari ia menggunakan KRL untuk berjualan di wilayah Jakarta.

Es kue yang dijualnya tidak diproduksi sendiri. Ia mengambil dari bosnya di wilayah Depok dengan sistem setoran. Harga satu potong es kue dijual Rp2.500.

Dalam sehari, Suderajat mengaku mampu menjual sekitar 150 potong. Penghasilannya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari, tergantung cuaca.

“Cukup buat makan istri dan anak,” katanya.

Anak-Anak Putus Sekolah

Penghasilan tersebut belum mampu mencukupi biaya pendidikan anak-anaknya. Dari lima orang anak, empat di antaranya tidak menamatkan sekolah menengah atas. Anak bungsunya saat ini masih duduk di kelas 1 sekolah dasar.

Zaitun, anak ketiga Suderajat, mengaku putus sekolah setelah lulus SMP karena keterbatasan biaya. Ia berusia 18 tahun.

“Aku tamat SMP, engga lanjut SMA karena biaya,” ujarnya.

Zaitun juga menyebut kakak pertamanya yang berusia 25 tahun dan kakak keduanya bekerja di pasar tanpa pendidikan SMA.

Meski demikian, Zaitun masih memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan jika mendapat kesempatan.

“Pengen banget,” katanya singkat.

Kasus Suderajat penjual es gabus kini menjadi simbol tuntutan publik terhadap penegakan hukum yang adil dan perlakuan manusiawi bagi warga kecil.

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related news