Info Jurnalis – Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans mendadak menjadi sorotan publik. Buku otobiografi tersebut tidak hanya menuai perhatian karena isinya, tetapi juga memicu polemik setelah mantan suaminya, Roby Tremonti, melontarkan tuduhan kontroversial.
Aurelie Moeremans sukses merilis buku Broken Strings yang berisi kisah hidup dan pengalaman pribadinya. Namun keberhasilan itu justru memancing kegaduhan dari masa lalunya. Roby Tremonti secara terbuka meragukan kemampuan Aurelie dalam merangkai kata-kata di dalam buku tersebut.
Melalui siaran langsung di Instagram, Roby Tremonti menyebut narasi dalam Broken Strings terlalu puitis dan mendalam untuk ditulis sendiri oleh Aurelie. Ia menduga kuat adanya campur tangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses penulisan buku itu.
Roby bahkan menyampaikan sindiran dengan nada sarkas. Ia menilai gaya bahasa dalam buku tersebut terasa “terlalu indah” dan mengarah pada penggunaan prompt AI. Pernyataan itu langsung menyulut reaksi keras dari warganet.
Tak berhenti di situ, Roby juga menyoroti lokasi Aurelie yang berada di luar negeri saat proses penulisan buku berlangsung. Menurutnya, hal tersebut janggal dan ia mempertanyakannya secara terbuka dalam siaran langsung yang sama.
Respons publik justru berbalik arah. Kolom komentar siaran langsung Roby dipenuhi kritik dan sindiran. Banyak netizen menuding Roby belum move on dan merasa iri terhadap kesuksesan mantan istrinya.

Tekanan dari warganet membuat emosi Roby memuncak. Ia menyatakan siap menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap menghina atau mencemarkan namanya di media sosial. Ancaman tersebut disampaikan dengan nada tegas dan emosional.
Di sisi lain, Aurelie Moeremans memilih bersikap tenang. Istri dari Tyler Bigenho ini membantah tudingan penggunaan AI. Ia menegaskan bahwa seluruh naskah Broken Strings ditulis sendiri olehnya, dengan bantuan penyuntingan dari sang suami.
Melalui Instagram Story pada 18 Januari 2026, Aurelie menjelaskan bahwa tujuan utama penerbitan buku tersebut bukan untuk membuka luka lama atau mencari simpati publik. Ia menyebut Broken Strings sebagai bagian dari misi kemanusiaan.
Aurelie menegaskan bahwa buku itu bertujuan meningkatkan kesadaran orang tua dan masyarakat terkait bahaya child grooming. Dalam buku tersebut, ia mengungkap pengalaman manipulasi yang pernah dialaminya saat masih di bawah umur.
Menurut Aurelie, kisah dalam Broken Strings diharapkan menjadi peringatan bagi remaja agar mampu mengenali tanda-tanda predator seksual sejak dini. Ia ingin pengalamannya menjadi pelajaran, bukan sekadar cerita pribadi.
Hingga berita ini diturunkan, buku Broken Strings terus mendapat dukungan luas dari publik. Sementara itu, Roby Tremonti masih menjadi sasaran kritik netizen akibat pernyataannya yang dinilai meremehkan karya literasi dan isu sensitif yang diangkat dalam buku tersebut.


